![]() |
| Kawasan Hutan Perempuan |
Hai para pejalan , kali ini
saya akan mengajak kalian mengintip kisah dibalik kawasan Hutan mangrove di
seputaran teluk dalam / teluk youtefa di Kota Jayapura. Beberapa waktu
belakangan ini Hutan Mangrove di seputaran teluk youtefa ini santer dengan
sebutan Hutan Perempuan. Saya pun
penasaran dan memantabkan hati untuk mengunjugi tempat ini. Sebelumnya saya sudah memiliki nomor kontak Mama
Kepala Kampung sehingga langung dapat membuat janji dengan beliau . Pagi itu tanggal 09 Des 20 saya dan beberapa teman langsung menuju ke Darmaga Ciberi untuk
bertemu Bapak Orgenes Meraudje yang adalah Kepala Kampung Engros, yang akan menjadi tour guide sekaligus membawa
speed yang kami tumpangi . Lokasinya tidak
dak jauh dari darmaga sekitar 15 menit untuk dapat sampai pada Hutan mangrove
yang menjadi tempat curahan hati mama – mama di Kampung Engros ini.
Tonot yang
dalam Bahasa lokal artinya Hutan Margrove Wiyat artinya ajakan untuk datang.
Jika di artikan secara keseluruhan Tonotwiyat berarti adalah kalimat ajakan “ mari ke hutan mangrove”. Ajakan inilah yang biasa dipakai Mama – mama di kampung untuk saling mengajak
rekan dan kerabat lainnya bersama – sama mengunjugi Hutan Perempuan.
Menurut Bapak Orgenes biasanya Mama – mama pergi menuju ke hutan perempuan bersama – sama menggunakan kole – kole ( perahu kecil)
Sayang sekali pada saat kami
datang, sedang tidak ada aktivitas mama – mama di hutan perempuan, karena saat
itu air laut sedang naik tinggi. Menurut penjelasan Bapak Orgenes, Mama – mama biasa
datang pada saat air turun, sehingga mereka bisa melakukan aktivitas mereka
mencari bia ( kerang). Mengapa disebut Hutan Perempuan , karena memang tempat
ini secara turun menurun hanya dikhususkan untuk para Perempuan sebagai salah
satu tempat mata pencaharian mereka. Begitu menarik tatanan adat dan pembagian
wilayah mata pencaharian bagi warga Kampung Enggros. Para laki – laki hanya diperbolehkan mencari ikan dilaut bebas,
sedangkan perempuan hanya boleh mencari bia di hutan mangrove,
itu sebabnya Kawasan hutan mangrove tempat para Perempuan di Kampung Enggros
mencari tambahan penghasilan disebut dan dikenal dengan nama Hutan Perempuan.
![]() |
| Aktivitas mencari bia/kerang (sumber foto : liputan6.com) |
Saya semakin tertegun mendengarkan cerita dari Bapak
Orgenes. Sambill membawa speed dengan kecepatan sedang beliau
menceritakan hal – hal menarik dibalik Hutan Perempuan ini. Selain yang
diperbolehkan mengunjungi tempat ini hanya perempuan, anak – anak kecil pun
tidak diperbolehkan, mengapa demikan, karena memang akan beresiko bagi anak –
anak yang juga harus turun kedalam mangrove . “Selain itu mencari bukan
tugas anak – anak to, anak – anak itu punya tugas sekolah” tutur Bapak Orgenes. Yang unik dari aktivitas mencari bia adalah
kebiasaan Mama – mama yang melepas pakaian mereka pada saat sedang mencari bia,
tujuannya adalah untuk mempermudah ruang
gerak mereka dalam mencari bia, dan jika harus mengenakan pakaian
lengkap biasanya tubuh akan terasa gatal . Mama – Mama meraba bia yang ada di dasar air
dengan kaki mereka, dan kalau dapat mereka bisa molo (menyelam) dan ambil bia untuk
dikumpul. Maka dari itu laki – laki dilarang keras masuk kedalam hutan ini,
terlebih jika sedang ada aktivitas mencari bia . Hal tersebut sudah di atur
dalam aturan adat yang berlaku di Kampung Enggros. Jika ada laki – laki yang
kedapatan dengan sengaja masuk dan mengintip aktivitas dari para perempuan maka
laki – laki tersebut akan dikenakan denda adat . Sanksinya bisa berupa uang
atau manik – manik ( perhiasan lokal), jumlahnya pun biasanya ditentukan dari
motif laki – laki yang masuk kedalam hutan, misalnya jika orang tersebut
sengaja maka jelas dendanya besar namun
jika secara tidak sengaja maka bisa saja tidak dikenakan denda hanya teguran
semata tangkas Bapak Orgenes. Dan jika misalnya orang yang pernah kedapatan mangintip
dan melakukannya lagi sampai 2/3 kali maka orang tersebut bisa saja di usir keluar dari Kampung. Menurut Bapak Orgenes peraturan ini dibuat untuk melindungi hutan dan perempuan serta kehidupan di Kampung dengan didasari prinsip - prinsip adat.
Selain mencari bia (kerang), Hutan Perempuan juga dijadikan sebagai tempat beradu kisah dan saling berbagi cerita tentang permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan seperti masalah ekonomi , keluarga, dan juga masalah - masalah percintaan dikala muda dulu . Wah menarik ya, ternyata memang mencurahkan isi hati/ curhat adalah salah satu kebutuhan Perempuan. Perempuan butuh tempat untuk di dengar dan di dukung secara moril, oleh para sesama perempuan lainnya tanpa harus merasa terintimidasi. Bapak Orgenes juga menyampaikan kepada kami bahwa di dalan tatanan adat perempuan tidak terlalu memiliki ruang untuk berbicara maka dengan adanya Hutan Perempuan, setidaknya membantu memberi ruang bagi para perempuan untuk mengutarakan isi hati dan keluh kesah mereka.
![]() |
| Aktivitas Mama- mama mencari bia sambil berbagi cerita . ( Sumber foto: Liputan6.com) |
![]() |
| Bapak Orgenes Meraudje mengendarai speed sambil memandu wisata. |
![]() |
| Hutan Perempuan Kampung Engros |
![]() |
| Jembatan merah Jayapura |
![]() |
| Berkeliling Hutan Perempuan Enggros dan Tobati |







Wah, ternyata cerita di balik nama "hutan perempuan" ini karena tradisi di sana ya mbak, ilmu baru nih hehe
BalasHapusAku bacanya berasa ikut dalam speednya hehe... Seru banget mba, aku baru tau ada hutan perempuan dan ada cerita dibaliknya. Semoga nanti aku dan keluarga bisa kesana. Terimakasih ceritanya mba!^^
BalasHapusKagum dengan semangat nama-nama ini semoga hutannya tetap terjaga ya..
BalasHapusWah seru banget kayanya ya ke sana mba. Salut sama para mama yang mau mencari bia, pasti sulit juga deh itu, keahlian renangnya dipertaruhkan.. apalah aku cuma bisa ngerendem 🤭
BalasHapusWah keren ya... Bener-bener keren, perempuan bisa mendapatkan hak khusus seperti. Jadi merasa ikut didengarkan dan dilindùngi rasanya. Negara kita memang penuh dengan adat dan budaya yang unik. Keren Papua, keren Indonesia.
BalasHapusmbak, pengen diajak liburan kesana dong. Merinding saya baca tulisannya. Duh, Indonesia ternyata keren banget ya
BalasHapusHi mbak Blandina, salam kenal :)
BalasHapusWaa menarik banget tentang cerita dibalik nama hutan mangrove ini.. salut dan bangga dengan keberagaman budaya dan suku Indonesia yang masih terjaga. Unik dan inspiratif sekali cerita dibalik nama hutan perempuan.
Aku jadi pengen menunggu tulisan-tulisan mbak yang lain hehe
Aku baru denger lho tentang hutan perempuan ini. Menarik sekali sih dibuat peraturan spt itu untuk mempertahankan budaya dan jg kelestarian alam. Bagus sekali share pengalamannya. Salam kenal Mba
BalasHapusjadi penasaran mbaa sama tempatnya dan pengen ikutin aktivitas mereka. dan yeess, perempuan butuh bicara dan didengar <3
BalasHapus